J E R U K
( Citrus sp. )
1.
SEJARAH SINGKAT
Tanaman jeruk adalah tanaman
buah tahunan yang berasal dari Asia. Cina dipercaya sebagai tempat pertama
kali jeruk tumbuh. Sejak ratusan tahun yang lalu, jeruk sudah tumbuh di
Indonesia baik secara alami atau dibudidayakan. Tanaman jeruk yang ada di
Indonesia adalah peninggalan orang Belanda yang mendatangkan jeruk manis dan
keprok dari Amerika dan Itali.
2. JENIS
TANAMAN
Klasifikasi botani tanaman
jeruk adalah sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Sub divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rutales
Keluarga : Rutaceae
Genus : Citrus
Spesies : Citrus sp.
Jenis jeruk lokal yang
dibudidayakan di Indonesia adalah jeruk Keprok (Citrus reticulata/nobilis L.),
jeruk Siem (C. microcarpa L. dan C.sinensis. L) yang terdiri atas
Siem Pontianak, Siem Garut, Siem Lumajang, jeruk manis (C. auranticum L.
Dan C.sinensis L.), jeruk sitrun/lemon (C. medica), jeruk besar (C.maxima
Herr.) yang terdiri atas jeruk Nambangan-Madium dan Bali. Jeruk
untuk bumbu masakan yang terdiri atas jeruk nipis (C. aurantifolia),
jeruk Purut (C. hystrix) dan jeruk sambal (C. hystix ABC). Jeruk
varietas introduksi yang banyak ditanam adalah varitas Lemon dan Grapefruit.
Sedangkan varitas lokal adalah jeruk siem, jeruk baby, keprok medan, bali,
nipis dan purut.
3.
MANFAAT TANAMAN
1) Manfaat tanaman jeruk
sebagai makanan buah segar atau makanan olahan, dimana kandungan vitamin C yang
tinggi.
2) Di Beberapa negara
telah diproduksi minyak dari kulit dan biji jeruk, gula tetes, alkohol dan pektin
dari buah jeruk yang terbuang. Minyak kulit jeruk dipakai untuk membuat minyak
wangi, sabun wangi, esens minuman dan untuk campuran kue.
3) Beberapa jenis jeruk
seperti jeruk nipis dimanfaatkan sebagai obat tradisional penurun panas, pereda
nyeri saluran napas bagian atas dan penyembuh radang mata.
4. SENTRA
PENANAMAN
Sentra jeruk di Indonesia
tersebar meliputi: Garut (Jawa Barat), Tawangmangu (Jawa Tengah), Batu (Jawa
Timur), Tejakula (Bali), Selayar (Sulawesi Selatan), Pontianak (Kalimantan
Barat) dan Medan (Sumatera Utara). Karena adanya serangan virus CVPD (Citrus
Vein Phloen Degeneration), beberapa sentra penanaman mengalami penurunan
produksi yang diperparah lagi oleh sistem monopoli tata niaga jeruk yang saat
ini tidak berlaku lagi.
5. SYARAT
TUMBUH
5.1.
Iklim
1) Kecepatan angin yang
lebih dari 40-48% akan merontokkan bunga dan buah. Untuk daerah yang intensitas
dan kecepatan anginnya tinggi tanaman penahan angin lebih baik ditanam berderet
tegak lurus dengan arah angin.
2) Tergantung pada
spesiesnya, jeruk memerlukan 5-6, 6-7 atau 9 bulan basah (musim hujan). Bulan
basah ini diperlukan untuk perkembangan bunga dan buah agar tanahnya tetap
lembab. Di Indonesia tanaman ini sangat memerlukan air yang cukup terutama di
bulan Juli-Agustus.
3) Temperatur optimal
antara 25-30 derajat C namun ada yang masih dapat tumbuh normal pada 38 derajat
C. Jeruk Keprok memerlukan temperatur 20 derajat C.
4) Semua jenis jeruk tidak
menyukai tempat yang terlindung dari sinar matahari.
5) Kelembaban optimum
untuk pertumbuhan tanaman ini sekitar 70-80%.
5.2.
Media Tanam
1) Tanah yang baik adalah
lempung sampai lempung berpasir dengan fraksi liat 7- 27%, debu 25-50% dan
pasir < 50%, cukup humus, tata air dan udara baik.
2) Jenis tanah Andosol dan
Latosol sangat cocok untuk budidaya jeruk.
3) Derajat keasaman tanah
(pH tanah) yang cocok untuk budidaya jeruk adalah 5,5 6,5 dengan pH optimum 6.
4) Air tanah yang optimal
berada pada kedalaman 150–200 cm di bawah permukaan tanah. Pada musim kemarau
150 cm dan pada musim hujan 50 cm. Tanaman jeruk menyukai air yang mengandung
garam sekitar 10%.
5) Tanaman jeruk dapat
tumbuh dengan baik di daerah yang memiliki kemiringan sekitar 300.
5.3.
Ketinggian Tempat
Tinggi tempat dimana jeruk
dapat dibudidayakan bervariasi dari dataran rendah sampai tinggi tergantung
pada spesies:
1) Jenis Keprok Madura,
Keprok Tejakula: 1–900 m dpl.
2) Jenis Keprok Batu 55,
Keprok Garut: 700-1.200 m dpl.
3) Jenis Manis Punten,
Waturejo, WNO, VLO: 300–800 m dpl.
4) Jenis Siem: 1–700 m
dpl.
5) Jenis Besar
Nambangan-Madiun, Bali, Gulung: 1–700 m dpl.
6) Jenis Jepun Kasturi,
Kumkuat: 1-1.000 m dpl.
7) Jenis Purut: 1–400 m
dpl.
6.
PEDOMAN BUDIDAYA
6.1.
Pembibitan
1) Persyaratan Bibit
Bibit jeruk yang biasa
ditanam berasal dari perbanyakan vegetatif berupa penyambungan tunas pucuk.
Bibit yang baik adalah yang bebas penyakit, mirip dengan induknya (true to
type), subur, berdiameter batang 2-3 cm, permukaan batang halus, akar serabut
banyak, akar tunggang berukuran sedang dan memiliki sertifikasi penangkaran bibit.
2) Penyiapan Bibit
Bibit yang biasa digunakan
untuk budidaya jeruk didapatkan dengan cara generatif dan vegetatif.
3) Teknik Penyemaian Bibit
a) Cara generatif
Biji diambil dari buah
dengan cara memeras buah yang telah dipotong. Biji dikeringanginkan di tempat
yang tidak disinari selama 2-3 hari hingga lendirnya hilang. Areal persemaian
memiliki tanah yang subur. Tanah diolah sedalam 30-4- cm
dan dibuat petakan
persemaian berukuran 1,15-1,20 m membujur dari utara ke selatan. Jarak petakan
0,5-1 m. Sebelum ditanami, tambahkan pupuk kandang 1 kg/m2. Biji
ditanam dalam alur dengan jarak tanam 1-1,5 x 2 cm dan langsung disiram.
Setelah tanam, persemaian diberi atap. Bibit dipindahtanam ke dalam polibag 15
x 35 cm setelah tingginya 20 cm pada umur 3-5 bulan. Media tumbuh dalam polibag
adalah campuran pupuk kandang dan sekam (2:1) atau pupuk kandang, sekam, pasir
(1:1:1).
b) Cara Vegetatif
Metode yang lazim
dilakukan adalah penyambungan tunas pucuk dan penempelan mata tempel. Untuk
kedua cara ini perlu dipersiapkan batang bawah (onderstam/rootstock) yang
dipilih dari jenis jeruk dengan perakaran kuat dan luas, daya adaptasi
lingkungan tinggi, tahan kekeringan, tahan/toleran terhadap penyakit virus,
busuk akar dan nematoda. Varietas batang bawah yang biasa digunakan oleh
penangkar adalah Japanese citroen, Rough lemon, Cleopatra, Troyer Citrange dan
Carizzo citrange.
6.2.
Pengolahan Media Tanam
Tanaman jeruk ditanam di
tegalan tanah sawah/di lahan berlereng. Jika ditanam di suatu bukit perlu
dibuat sengkedan/teras. Lahan yang akan ditamani dibersihkan dari tanaman lain
atau sisa-sisa tanaman. Jarak tanam bervariasi untuk setiap jenis jeruk dapat
dilihat pada data berikut ini:
1) Keprok dan Siem : jarak
tanam 5 x 5 m
2) Manis : jarak tanam 7 x
7 m
3) Sitrun (Citroen) :
jarak tanam 6 x 7 m
4) Nipis : jarak tanam 4 x
4 m
5) Grape fruit : jarak
tanam 8 x 8 m
6) Besar : jarak tanam
(10-12) x (10-12) m
Lubang tanam hanya dibuat
pada tanah yang belum diolah dan dibuat 2 minggu sebelum tanah. Tanah bagian
dalam dipisahkan dengan tanah dari lapisan atas tanah (25 cm). Tanah berasal
dari lapisan atas dicampur dengan 20 kg pupuk kandang. Setelah penanaman tanah
dikembalikan lagi ke tempat asalnya. Bedengan (guludan) berukuran 1 x 1 x 1 m
hanya dibuat jika jeruk ditanam di tanah sawah.
6.3.
Teknik Penanaman
Bibit jeruk dapat ditanam
pada musim hujan atau musim kemarau jika tersedia air untuk menyirami, tetapi
sebaiknya ditanam diawal musim hujan. Sebelum ditanam, perlu dilakukan:
1) Pengurangan daun dan
cabang yang berlebihan.
2) Pengurangan akar.
3) Pengaturan posisi akar
agar jangan ada yang terlipat.
Setelah bibit ditaman,
siram secukupnya dan diberi mulsa jerami, daun kelapa atau daun-daun yang bebas
penyakit di sekitarnya. Letakkan mulsa sedemikian rupa agar tidak menyentuh batang
untuk menghindari kebusukan batang. Sebelum tanaman berproduksi dan tajuknya
saling menaungi, dapat ditanam tanaman sela baik kacang-kacangan/sayuran.
Setelah tajuk saling menutupi, tanaman sela diganti oleh rumput/tanaman legum
penutup tanah yang sekaligus berfungsi sebagai penambah nitrogen bagi tanaman
jeruk.
6.4.
Pemeliharaan Tanaman
1) Penyulaman
Dilakukan pada tanaman
yang tidak tumbuh.
2) Penyiangan
Gulma dibersihkan sesuai
dengan frekuensi pertumbuhannya, pada saat pemupukan juga dilakukan penyiangan.
3) Pembubunan
Jika ditanam di tanah
berlereng, perlu diperhatikan apakah ada tanah di sekitar perakaran yang
tererosi. Penambahan tanah perlu dilakukan jika pangkal akar sudah mulai
terlihat.
4) Pemangkasan
Pemangkasan bertujuan
untuk membentuk tajuk pohon dan menghilangkan cabang yang sakit, kering dan
tidak produktif/tidak diinginkan. Dari tunas-tunas awal yang tumbuh biarkan 3-4
tunas pada jarak seragam yang kelak akan membentuk tajuk pohon. Pada
pertumbuhan selanjutnya, setiap cabang memiliki 3-4 ranting atau kelipatannya.
Bekas luka pangkasan ditutup dengan fungisida atau lilin untuk mencegah
penyakit. Sebaiknya celupkan dulu gunting pangkas ke dalam Klorox/alkohol.
Ranting yang sakit dibakar atau dikubur dalam tanah.
5) Pemupukan
Pemberian jenis pupuk dan
dosis (gram/tanaman) setelah penanaman adalah
sebagai berikut:
a) 1 bulan: Urea=100;
ZA=200; TSP=25; ZK=100; Dolomit=20; P.kandang=20
kg/tan.
b) 2 bulan: Urea=200;
ZA=400; TSP=50; ZK=200; Dolomit=40; P.kandang=40
kg/tan.
c) 3 bulan: Urea=300; ZA=600;
TSP=75; ZK=300; Dolomit=60; P.kandang=60
kg/tan.
d) 4 bulan: Urea=400;
ZA=800; TSP=100; ZK=400; Dolomit=80; P.kandang=80
kg/tan.
e) 5 bulan: Urea=500;
ZA=1000; TSP=125; ZK=500; Dolomit=100;
P.kandang=100 kg/tan.
f) 6 bulan: Urea=600;
ZA=1200; TSP=150; ZK=600; Dolomit=120;
P.kandang=120 kg/tan.
g) 7 bulan: Urea=700;
ZA=1400; TSP=175; ZK=700; Dolomit=140;
P.kandang=140 kg/tan.;
h) 8 bulan: Urea=800;
ZA=1600; TSP=200; ZK=800; Dolomit=160;
P.kandang=160 kg/tan.
i) >8 bulan: Urea >1000;
ZA=2000; TSP=200; ZK=800; Dolomit=200;
P.kandang=200 kg/tan.
6) Pengairan dan
Penyiraman
Penyiraman jangan
menggenangi batang akar. Tanaman diairi sedikitnya satu kali dalam seminggu
pada musim kemarau. Jika air kurang tersedia, tanah di sekitar tanaman
digemburkan dan ditutup mulsa.
7) Penjarangan Buah
Pada tahun di mana pohon
jeruk berbuah lebat, perlu dilakukan penjarangan supaya pohon mampu mendukung
pertumbuhan dan bobot buah serta kualitas buah terjaga. Buah yang dibuang
meliputi buah yang sakit, yang tidak terkena sinar matahari (di dalam
kerimbunan daun) dan kelebihan buah di dalam satu tangkai. Hilangkan buah di
ujung kelompok buah dalam satu tangkai utama terdapat dan sisakan hanya 2-3
buah.
7. HAMA
DAN PENYAKIT
7.1. Hama
1) Kutu loncat (Diaphorina
citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai, kuncup daun, tunas, daun muda. Gejala: tunas keriting,
tanaman mati. Pengendalian: menggunakan insektisida bahan aktif
dimethoate (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC), Monocrotophos (Azodrin 60 WSC) dan
endosulfan (Thiodan 3G, 35 EC dan Dekasulfan 350 EC). Penyemprotan dilakukan
menjelang dan saat bertunas, Selain itu buang bagian yang terserang.
2) Kutu daun (Toxoptera
citridus aurantii, Aphis gossypii.)
Bagian yang diserang
adalah tunas muda dan bunga. Gejala: daun menggulung dan membekas sampai
daun dewasa. Pengendalian: menggunakan insektisida dengan bahan aktif
Methidathion (Supracide 40 EC), Dimethoate (Perfecthion, Rogor 40 EC, Cygon),
Diazinon (Basudin 60 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW), Malathion (Gisonthion
50 EC).
3) Ulat peliang daun (Phyllocnistis
citrella.)
Bagian yang diserang
adalah daun muda. Gejala: alur melingkar transparan atau keperakan,
tunas/daun muda mengkerut, menggulung, rontok. Pengendalian: semprotkan
insektisida dengan bahan aktif Methidathion (Supracide 40 EC, Basudin 60 EC),
Malathion (Gisonthion 50 EC, 50 WP)< Diazinon (Basazinon 45/30 EC). Kemudian
daun dipetik dan dibenamkan dalam tanah.
4) Tungau (Tenuipalsus
sp. , Eriophyes sheldoni Tetranychus sp)
Bagian yang diserang adalah
tangkai, daun dan buah. Gejala: bercak keperakperakan atau coklat pada
buah dan bercak kuning atau coklat pada daun. Pengendalian: semprotkan
insektisida Propargite (Omite), Cyhexation (Plictran), Dicofol (Kelthane),
Oxythioquimox (Morestan 25 WP, Dicarbam 50 WP).
5) Penggerek buah (Citripestis
sagittiferella.)
Bagian yang diserang
adalah buah. Gejala: lubang yang mengeluarkan getah. Pengendalian:
memetik buah yang terinfeksi kemudian menggunakan insektisida Methomyl (Lannate
25 WP, Nudrin 24 WSC), Methidathion (Supracide 40 EC) yang disemprotkan pada
buah berumur 2-5 minggu.
6) Kutu penghisap daun (Helopeltis
antonii.)
Bagian yang diserang
Helopeltis antonii. Gejala: bercak coklat kehitaman dengan pusat
berwarna lebih terang pada tunas dan buah muda, bercak disertai keluarnya
cairan buah yang menjadi nekrosis. Pengendalian: semprotkan insektisida
Fenitrotionmothion (Sumicidine 50 EC), Fenithion (Lebaycid), Metamidofos
(Tamaron), Methomil (Lannate 25 WP).
7) Ulat penggerek bunga
dan puru buah (Prays sp.)
Bagian yang diserang
adalah kuncup bunga jeruk manis atau jeruk bes. Gejala: bekas
lubang-lubang bergaris tengah 0,3-0,5 cm, bunga mudah rontok, buah muda gugur
sebelum tua. Pengendalian: gunakan insektisida dengan bahan aktif Methomyl
(Lannate 25 WP) dan Methidathion (Supracide 40 EC). Kemudian buang bagian yang
diserang.
8) Thrips (Scirtotfrips
citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai dan daun muda. Gejala: helai daun menebal, tepi daun
menggulung ke atas, daun di ujung tunas menjadi hitam, kering dan gugur, bekas
luka berwarna coklat keabu-abuan kadang-kadang disertai nekrotis. Pengendalian:
menjaga agar tajuk tanaman tidak terlalu rapat dan sinar matahari measuk ke
bagian tajuk, hindari memakai mulsa jerami. Kemudian gunakan insektisida
berbahan aktif Difocol (Kelthane) atau Z-Propargite (Omite) pada masa bertunas.
9) Kutu dompolon (Planococcus
citri.)
Bagian yang diserang
adalah tangkai buah. Gejala: berkas berwarna kuning, mengering dan buah
gugur. Pengendalian: gunakan insektisda Methomyl (Lannate 25 WP),
Triazophos (Fostathion 40 EC), Carbaryl (Sevin 85 S), Methidathion (Supracide
40 EC). Kemudian cegah datangnya semut yang dapat memindahkan kutu.
10) Lalat buah (Dacus
sp.)
Bagian yang diserang
adalah buah yang hampir masak. Gejala: lubang kecil di bagian tengah,
buah gugur, belatung kecil di bagian dalam buah. Pengendalian: gunakan
insektisida Fenthion (Lebaycid 550 EC), Dimethoathe (Roxion 40 EC, Rogor 40 EC)
dicampur dengan Feromon Methyl-Eugenol atau protein Hydrolisate.
11) Kutu sisik (Lepidosaphes
beckii Unaspis citri.)
Bagian yang diserang daun,
buah dan tangkai. Gejala: daun berwarna kuning, bercak khlorotis dan
gugur daun. Pada gejala serangan berat terlihat ranting dan cabang kering dan
kulit retak buah gugur. Pengendalian: gunakan pestisida Diazinon
(Basudin 60 EC, 10 G, Basazinon 45/30 EC), Phosphamidon (Dimecron 50 SCW),
Dichlorophos (Nogos 50 EC), Methidhation (Supracide 40 EC).
12) Kumbang belalai (Maeuterpes
dentipes.)
Bagian yang diserang
adalah daun tua pada ranting atau dahan bagian bawah. Gejala: daun
gugur, ranting muda kadang-kadang mati. Pengendalian: perbaiki sanitasi
kebun, kurangi kelembaban perakaran. Kemudian gunakan insektisida Carbaryl
(Sevin 85 S) dan Diazinon (Basudin 60 EC, 10 G).
7.2.
Penyakit
1) CVPD
Penyebab: Bacterium
like organism dengan vektor kutu loncat Diaphorina citri. Bagian yang
diserang: silinder pusat (phloem) batang. Gejala: daun sempit, kecil, lancip,
buah kecil, asam, biji rusak dan pangkal buah oranye. Pengendalian: gunakan
tanaman sehat dan bebas CVPD. Selain itu penempatan lokasi kebun minimal 5 km
dari kebun jeruk yang terserang CVPD. Gunakan insektisida untuk vektor dan
perhatikan sanitasi kebun yang baik.
2) Tristeza
Penyebab: virus Citrus
tristeza dengan vektor Toxoptera. Bagian yang diserang jeruk manis, nipis,
besar dan batang bawah jeruk Japanese citroen. Gejala: lekuk batang ,
daun kaku pemucatan, vena daun, pertumbuhan terhambat. Pengendalian:
perhatikan sanitasi kebun, memusnahkan tanaman yang terserang, kemudian
kendalikan vektor dengan insektisida Supracide atau Cascade.
3) Woody gall (Vein
Enation)
Penyebab: virus Citrus
Vein Enation dengan vektor Toxoptera citridus, Aphis gossypii. Bagian yang
diserang: Jeruk nipis, manis, siem, Rough lemon dan Sour Orange. Gejala:
Tonjolan tidak teratur yang tersebar pada tulang daun di permukaan daun. Pengendalian:
gunaan mata tempel bebas virus dan perhatikan sanitasi lingkungan.
4) Blendok
Penyebab: jamur Diplodia
natalensis. Bagian yang diserang adalah batang atau cabang. Gejala:
kulit ketiak cabang menghasilkan gom yang menarik perhatian kumbang, warna kayu
jadi keabu-abuan, kulit kering dan mengelupas. Pengendalian: pemotongan
cabang terinfeksi, bekas potongan diberi karbolineum atau fungisida Cu. dan
fungisida Benomyl 2 kali dalam setahun.
5) Embun tepung
Penyebab: jamur Odidium
tingitanium. Bagian yang diserang adalah daun dan tangkai muda. Gejala:
tepung berwarna putih di daun dan tangkai muda. Pengendalian: gunakan
fungisida Pyrazophos (Afugan) dan Bupirimate (Nimrot 25 EC).
6) Kudis
Penyebab: jamur Sphaceloma
fawcetti. Bagian yang diserang adalah daun, tangkai atau buah. Gejala:
bercak kecil jernih yang berubah menjadi gabus berwarna kuning atau oranye. Pengendalian:
pemangkasan teratur. Kemudian gunakan Fungisida Dithiocarbamate /Benomyl (Benlate).
7) Busuk buah
Penyebab: Penicillium
spp. Phytophtora citriphora, Botryodiplodia theobromae. Bagian yang
diserang adalah buah. Gejala: terdapat tepung-tepung padat berwarna
hijau kebiruan pada permukaan kulit. Pengendalian: hindari kerusakan mekanis,
celupkan buah ke dalam air panas/fungisida benpmyl, pelilinan buah dan
pemangkasan bagian bawah pohon.
8) Busuk akar dan pangkal
batang
Penyebab: jamur Phyrophthoranicotianae.
Bagian yang diserang adalah akar dan pangkal batang serta daun di bagian ujung
dahan berwarna kuning. Gejala: tunas tidak segar, tanaman kering. Pengendalian:
pengolahan dan pengairan yang baik, sterilisasi tanah pada waktu penanaman,
buat tinggi tempelan minimum 20 cm dari permukaan tanah.
9) Buah gugur prematur
Penyebab: jamur Fusarium
sp. Colletotrichum sp. Alternaria sp. Bagian yang diserang:
buah dan bunga Gejala: dua-empat minggu sebelum panen buah gugur. Pengendalian:
Fungisida Benomyl (Benlate) atau Caprafol.
10) Jamur upas
Penyebab: Upasia
salmonicolor. Bagian yang diserang adalah batang. Gejala: retakan
melintang pada batang dan keluarnya gom, batang kering dan sulit dikelupas. Pengendalian:
kulit yang terinfeksi dikelupas dan disaput fungisida carbolineum. Kemudian
potong cabang yang terinfeksi.
11) Kanker
Penyebab: bakteri
Xanthomonas campestris Cv. Citri. Bagian yang diserang adalah daun,
tangkai, buah. Gejala: bercak kecil berwarna hijau-gelap atau kuning di
sepanjang tepi, luka membesar dan tampak seperti gabus pecah dengan diameter
3-5 mm. Pengendalian: Fungisida Cu seperti Bubur Bordeaux, Copper
oxychlorida. Selain itu untuk mencegah serangan ulat peliang daun adalah dengan
mencelupkan mata tempel ke dalam 1.000 ppm Streptomycin selama 1 jam.
8. PANEN
8.1. Ciri
dan Umur Panen
Buah jeruk dipanen pada
saat masak optimal, biasanya berumur antara 28–36 minggu, tergantung
jenis/varietasnya.
8.2. Cara
Panen
Buah dipetik dengan
menggunakan gunting pangkas.
8.3.
Perkiraan Produksi
Rata-rata tiap pohon dapat
menghasilkan 300-400 buah per tahun, kadang-kadang sampai 500 buah per tahun.
Produksi jeruk di Indonesia sekitar 5,1 ton/ha masih di bawah produksi di
negara subtropis yang dapat mencapai 40 ton/ha.

0 Comments