RAMBUTAN
( Nephelium sp. )
1.
SEJARAH SINGKAT
Rambutan (Nephelium sp.)
merupakan tanaman buah hortikultural berupa pohon dengan famili
Sapindacaeae. Tanaman buah tropis ini dalam bahasa Inggrisnya disebut Hairy
Fruit berasal dari Indonesia. Hingga saat ini telah menyebar luar di daerah
yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-negara Amerika Latin dan
ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-tropis.
2. JENIS
TANAMAN
Dari survey yang telah
dilakukan terdapat 22 jenis rambutan baik yang berasal dari galur murni maupun
hasil okulasi atau penggabungan dari dua jenis dengan galur yang berbeda.
Ciri-ciri yang membedakan setiap jenis rambutan dilihat dari sifat buah (dari
daging buah, kandungan air, bentuk, warna kulit, panjang rambut). Dari sejumlah
jenis rambutan diatas hanya beberapa varietas rambutan yang digemari orang dan
dibudidayakan dengan memilih nilai ekonomis relatif tinggi diantaranya:
1) Rambutan Rapiah buah
tidak terlalu lebat tetapi mutu buahnya tinggi, kulit
berwarna hijau-kuning-merah
tidak merata dengan beramut agak jarang, daging buah manis dan agak kering,
kenyal, ngelotok dan daging buahnya tebal, dengan daya tahan dapat mencapai 6
hari setelah dipetik.
2) Rambutan Aceh Lebak
bulus pohonnya tinggi dan lebat buahnya dengan hasil rata-rata 160-170 ikat per
pohon, kulit buah berwarna merah kuning, halus, rasanya segar manis-asam banyak
air dan ngelotok daya simpan 4 hari setelah dipetik, buah ini tahan dalam
pengangkutan.
3) Rambutan Cimacan,
kurang lebat buahnya dengan rata-rata hasil 90-170 ikat per pohon, kulit
berwarna merah kekuningan sampai merah tua, rambut kasar dan agak jarang, rasa
manis, sedikit berair tetapi kurang tahan dalam pengangkutan.
4) Rambutan Binjai yang
merupakan salah satu rambutan yang terbaik di Indonesia
dengan buah cukup besar,
dengan kulit berwarna merah darah sampai merah tua rambut buah agak kasar dan
jarang, rasanya manis dengan asam sedikit, hasilbuah tidak selebat aceh lebak
bulus tetapi daging buahnya ngelotok.
5) Rambutan Sinyonya,
jenis rambutan ini lebat buahnya dan banyak disukai terutama orang Tionghoa,
dengan batang yang kuat cocok untuk diokulasi, warna kulit buah merah tua
sampai merah anggur, dengan rambut halus dan rapat,rasa buah manisa sam, banyak
berair, lembek dan tidak ngelotok.
3. MANFAAT
TANAMAN
Tanaman buah rambutan
sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan buahnya yang mempunyai gizi, zat
tepung, sejenis gula yang mudah terlarut dalam air, zat protein dan asam amino,
zat lemak, zat enzim-enzim yang esensial dan nonesensial, vitamin dan zat
mineral makro, mikro yang menyehatkan keluarga, tetapi ada pula sementara
masyarakat yang memanfaatkan sebagai pohon pelindung di pekarangan, sebagai
tanaman hias.
4. SENTRA
PENANAMAN
Di Indonesia yang menjadi
sentra penanaman rambutan adalah di Jawa khususnya yang sangat besar produksi
buah rambutan antara lain di Bekasi, Kuningan, Malang, Probolinggo, Lumajang
dan di Garut.
5. SYARAT
PERTUMBUHAN
5.1.
Iklim
1) Dalam budidaya rambutan
angin berperan dalam penyerbukan bunga.
2) Intensitas curah hujan
yang dikehendaki oleh pohon rambutan berkisar antara 1.500-2.500 mm/tahun dan
merata sepanjang tahun
3) Sinar matahari harus
dapat mengenai seluruh areal penanaman sejak dia terbit sampai tenggelam,
intensitas pancaran sinar matahari erat kaitannya dengan suhu lingkungan.
4) Tanaman rambutan akan
dapat tumbuh berkembang serta berbuah dengan optimal pada suhu sekitar 25
derajat C yang diukur pada siang hari. Kekurangan sinar matahari dapat
menyebabkan penurunan hasil atau kurang sempurna (kempes).
5) Kelembaban udara yang
dikehendaki cenderung rendah karena kebanyakan tumbuh di dataran rendah dan
sedang. Apabila udara mempunyai kelembaban yang rendah, berarti udara kering
karena miskin uap air. Kondisi demikian cocok untuk pertumbuhan tanaman
rambutan.
5.2.
Media Tanam
1) Rambutan dapat tumbuh
baik pada lahan yang subur dan gembur serta sedikit mengandung pasir, juga
dapat tumbuh baik pada tanah yang banyak mengandung bahan organik ataui pada
tanah yang keadaan liat dan sedikit pasir.
2) Pada dasarnya tingkat/derajat
keasaman tanah (pH) tidak terlalu jauh berbeda dengan tanaman perkebunan
lainnya di Indonesia yaitu antara 6-6,7 dan kalau kurang dari 5,5 perlu
dilakukan pengapuran terlebih dahulu.
3) Kandungan air dalam
tanah idealnya yang diperlukan untuk penanaman pohon rambutan antara 100-150 cm
dari permukaan tanah.
4) Pada dasarnya tanaman
rambutan tidak tergantung pada letak dan kondisi tanah, karena keadaan tanah
dapat dibentuk sesuai dengan tata cara penanaman yang benar (dibuatkan
bedengan) sesuai dengan petunjuk yang ada.
5.3.
Ketinggian Tempat
Rambutan dapat tumbuh
subur pada dataran rendah dengan ketinggian antara 30- 500 m dpl. Pada
ketinggian dibawah 30 m dpl rambutan dapat tumbuh namun tidak begitu baik
hasilnya.
6.
PEDOMAN BUDIDAYA
6.1. Pembibitan
1) Persyaratan Benih
Benih yang diambil
biasanya dipilih dari benih-benih yang disukai oleh masyarakat konsumen antara
lain: Rambutan Rapiah, Rambutan Aceh, Lebak bulus, Rambutan Cimacan, Rambutan,
Rambutan Sinyonya.
2) Penyiapan Benih
Persiapan benih biji yang
dipergunakan sebagai pohon pangkal setelah buah dikupas dan diambil bijinya
dengan jalan fermentasi biasa (ditahan selama 1-2 hari) sesudah itu di
angin-anginkan selama 24 jam (sehari semalam) dan biji siap disemaikan.
Disamping itu dapat pula direndamdengan larutan asam dengan perbandingan 1:2
dari air dan larutan asam yang terdiri dari asam chlorida (HCl) 25% atau Asam
Sulfat (H2S04) BJ = 1.84, caranya direndam selama 15 menit kemudian dicuci
dengan air tawar yang bersih sebanyak 3 kali berulang dengan air yang mengalir
selama 10 menit dan dianginkan selama 24 jam. Untuk menghidari jamur biji dapat
dibalur dengan larutan Dithane 45, Attracol 70 WP atau fungisida lainnya.
3) Teknik Penyemaian Benih
Teknik penyemaian benih
dipilih lahan yang gembur dan mudah mendapat pengairan serta mudah dikeringkan
disamping itu mudah diawasi seperti: mencangkul tanah sedalam 20-30 cm sambil
dibersihkan dari rumput-rumput, batu-batu dan sisa pepohonan dan benda keras
lainnya. Kemudian tanah dihaluskan sehingga menjadi gembur dan buatkan
bedang-bedeng yang berukuran 1-1,5 m lebar dan tinggi sekitar 30 cm, panjang
disesuaikan dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang bedengan
sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari Utara ke Selatan, supaya
mendapatkan banyak sinar matahari walaupun setelah diberi atap pelindung,
dengan jarak antara bedeng 30 cm dan untuk menambah kesuburan dapat diberi
pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah matang dan benih siap disemaikan.
Selain dengan melalui proses pengecambahan juga biji dapat langsung
ditunggalkan pada bedeng-bedeng yang sudah disiapkan, untuk menyiapkan pohon
pangkal lebih baik melalui proses pengecambahan, biji-biji tersebut ditanam
pada bedengbedeng yang berjarak 10 X 10 cm setelah berkecambah dan berumur
1-1,5 bulan dan sudah tumbuh daun sekitar 2-3 helai maka bibit dapat
dipindahkan dari bedeng persemaian ke bedeng penanaman.
4) Pemeliharaan
Pembibitan/Penyemaian
Setelah bibit berkecambang
dan telah berumur 1-1,5 bulan disiram pagi sore, setelah kecambah dipindah ke
bedeng pembibitan penyiraman cukup 1 kali tiap pagi hari sampai menjelang mata
hari terbit, dengan menggunakan "gembor" supaya merata dan tidak
merusak bedengan dan diusahakan air dapat menembus sedalam 3-4 cm dari permukaan.
Kemudian dilakukan pendangiran bedengan supaya tetap gembur dan dilakukan
setiap 2-3 minggu sekali, rumput yang tumbuh disekitarnya supaya disiangi,
hindarkan dari serangan hama dan penyakit, sampai umur kurang lebih 1 tahun
persemaian yang dilakukan terhadap pohon baru setelah itu dapat dilakukan
pengokulasian yang ditentukan dengan sistem Fokkert yang sudah disempurnakan
yang sebelumnya daun-daun dirontokkan pada pohon induk yang telah dipilih mata
kulitnya dan kemudian setelah disiapkan tempat untuk penempelan mata kulit
tersebut sampai mata kulit itu tumbuh tunas, setelah itu tunas asli pada pohon
induk yang telah ditempel dipangkas, kemudian rawat dengan penyiraman 2 kali
sehari dan mendangir serta membersihkan rumput-rumput yang ada disiangi,
kemudian dapat juga diberi pupuk urea 10 gram untuk tiap 1 m² untuk 25 tanaman
rambutan.
5) Pemindahan Bibit
Cara pemindahan bibit yang
telah berkecambah atau di cangkok maupun diokulasi dapat dengan
mencungkil/membuka plastik yang melekat pada media penanaman dengan cara
hati-hati jangan sampai akar menjadi rusak dan dilakukan penyungkilan sekitar 5
cm dan agar tumbuh akar lebih banyak maka dalam penanaman kembali akar
tunggangnya dapat dipotong sedikit untuk menjaga penguapan kemudian lebar daun
dipotong separuh serta keping yang menempel dibiarkan sebab berfungsi sebagai
cadangan makanan sebelum dapat menerima makanan dari tanah yang baru. Dan
ditanam pada bedeng pembibitan dengan jarak 30-40 cm dan ditutupi dengan atap
yang dipasang miring lebih tinggi di Timur dengan harapan dapat lebih banyak
kena sinar mata hari pagi.
6.2.
Pengolahan Media Tanam
1) Persiapan
Pilihlah tanah yang subur,
hindari daerah yang berkondisi tanahnya terlampau liat dan tidak memiliki
sirkulasi yang baik, meskipun pada daerah perbukitan tetapi tanahnya subur
dengan cara membuat sengkedan (teras) pada bagian yang curam, kemudian untuk
menggemburkan tanah perlu dibajak atau cukup dicangkul dengan kedalaman sekitar
30 cm secara merata.
2) Pembukaan Lahan
Tanah yang akan
dipergunakan untuk kebun rambutan dikerjakan semua secara bersama, tanaman
pengganggu seperti semak-semak dan rerumputan dibuang dan benda-benda keras
disingkirkan kemudian tanah dibajak/dicangkul. Bila bibit berasal dari
cangkokan pengolahan tanah tidak perlu terlalu dalam tetapi kalau dari hasil
okulasi perlu pengolahan yang cukup dalam. Kemudian dibuatkan saluran air
selebar 1 meter dan kedalam disesuaikan dengan kedalaman air tanah, guna
mengatasi sistem pembuangan air yang kurang lancar. Tanah yang kurus dan kurang
humus atau tanah cukup liat diberikan pupuk hijau yang dibuat dengan cara
mengubur ranting-ranting dan dedaunan dan kondisi ini dibiarkan selama kurang
lebih 1 tahun sebelumnya.
3) Pembentukan Bedengan
Setelah tanah keadaan
gembur dan buatkan bedeng-bedengan yang berukuran 8 m lebar dan tinggi sekitar
30 cm dengan perataan dasar atasnya guna menopang bibit yang akan ditanam,
panjang disesuaikan dengan luas pekarangan/persawahan. Tetapi idealnya panjang
bedengan sekitar 10 m, dengan keadaan arah membujur dari utara ke selatan,
supaya mendapatkan banyak sinar matahari pagi walaupun setelah diberi atap
pelindung, dengan jarak antara bedeng 1 m yang diharapkan untuk lalu-lintas
para pekerja dan dapat dipergunakan sebagai saluran air pembuangan, dan untuk
menambah kesuburan dapat diberi pupuk hijau, kompos/pupuk kandang yang sudah
matang
4) Pengapuran
Pengapuran pada dataran
yang berasal dari tambak dan juga dataran yang baru terbentuk tidak bisa
ditanami, selain tanah masih bersifat asam juga belum terlalu subur, setelah
lobang-lobang itu digali dengan ukuran penanaman di pekarangan dan dasarnya
ditaburkan kapur sebanyak 0,5 liter untuk setiap lobang guna menetralkan pH
tanah hingga mencapai 6-6,7 sebagai syarat tumbuhnya tanaman rambutan, setelah
1 minggu dari penaburan kapur diberi pupuk kandang supaya tanah menjadi subur.
5) Pemupukan
Setelah jangka waktu 1
minggu dari pemberian kapur pada lubang-lubang yang ditentukan kemudian
diberikan pupuk kandang sebanyak 25 kg (kurang lebih 1 blek) dan setelah 1
minggu lahan baru siap untuk ditanami bibit rambutan yang telah jadi.
6.3.
Teknik Penanaman
1) Penentuan Pola Tanaman
Penyiapan pohon pangkal
sebaiknya melalui proses perkecambahan kemudian ditanam dengan jarak 10 x 10 cm
setelah berkecambah dan berumur 1-1,5 bulan atau telah tumbuh daun sebanyak 3
helai maka bibit/zaeling dapat dipindahkan pada bedeng ke dua dengan jarak 1-14
meter. Untuk menghindari sengatan sinar matahari secara langsung dibuat atap
yang berbentuk miring lebih tinggi ke Timur dengan maksud supaya mendapatkan
sinar matahari pagi hari secara penuh.
2) Pembuatan Lubang
Tanaman
Pembuatan lubang pada
bedeng-bedeng yang telah siap untuk tempat penanaman bibit rambutan yang sudah
jadi dilakukan setelah tanah diolah secara matang kemudian dibuat lobang-lobang
dengan ukuran 1 x 1 x 0,5 m yang sebaiknya telah dipersiapkan 3-4 pekan
sebelumnya dan pada waktu penggalian tanah yang diatas dan yang dibawah
dipisahkan yang nantinya dipergunakan untuk penutup kembali lubang yang telah
diberi tanaman, sedangkan jarak antar lubang sekitar 12-14 m.
3) Cara Penanaman
Setelah berlangsung selama
2 pekan lubang ditutup dengan susunan tanah seperti sedia kala dan tanah yang
bagian atas dikembalikan setelah dicampur dengan 3 blek (1 blek kurang lebih 20
liter) pupuk kandang yang sudah matang, dan kira-kira 4 pekan dan tanah yang
berada di lubang bekas galian tersebut sudah mulai menurun baru rambutan
ditanam dan tidak perlu terlalu dalam secukupnya, maksudnya batas antara akar
dan batang rambutan diusahakan setinggi permukaan tanah yang ada
disekelilingnya.
4) Lain-lain
Pada awal penanaman di
kebun perlu diberi perlindungan yang rangkanya dibuat dari bambu/bahan lain
dengan dipasang posisi agak tinggi disebelah Timur, agar tanaman mendapatkan
lebih banyak sinar matahari pagi dari pada sore hari, dan untuk atapnya dapat
dibuat dari daun nipah, kelapa/tebu. Sebaiknya penanaman dilakukan pada awal
musim penghujan, agar kebutuhan air dapat dipenuhi secara alamiah.
6.4.
Pemeliharaan Tanaman
1) Penjarangan dan
Penyulaman
Karena kondisi tanah telah
gembur dan mudah tanaman lain akan tumbuh kembali terutama Gulma (tanaman
pengganggu), seperti rumput-rumputan dan harus disiangi sampai radius 1-2 m
sekeliling tanaman rambutan. Apabila bibit tidak tumbuh dengan baik segera
dilakukan penggantian dengan bibit cadangan.
2) Perempalan
Agar supaya tanaman
rambutan mendapatkan tajuk yang rimbun, setelah tanaman berumur 2 tahun segera
dilakukan peempelan/ pemangkasan pada ujung cabang-cabangnya. Disamping untuk
memperoleh tajuk yang seimbang juga berguna memberi bentuk tanaman,
memperbanyak dan mengatur produksi agar tanaman tetap terpelihara. Pemangkasan
juga perlu dilakukan setelah masa panen buah berakhir dengan harapan muncul
tajuk-tajuk baru sebagai tempat munculnya bunga baru pada musim berikutnya dan
hasil berikutnya dapat meningkat.
3) Pemupukan
Untuk menjaga agar
kesuburan lahan tanaman rambutan tetap stabil perlu diberikan pupuk secara
berkala dengan aturan:
a) Pada tahun ke 2 setelah
penanaman bibit diberikan pada setiap pohon dengan
campuran 30 kg pupuk
kandang, 50 kg TSP, 100 gram Urea dan 20 germ ZK dengan cara ditaburkan
disekeliling pohon/dengan jalan menggali disekeliling pohon sedalam 30 cm
selebar antara 40-50 cm, kemudian masukkan campuran tersebut dan tutup kembali
dengan tanah galian sebelumnya.
b) Tahun berikutnya perlu
dosis pemupukan perlu ditambah dengan komposisi 50 kg pupuk kandang, 60 kg TSP,
150 gr Urea dan 250 gr ZK dengan cara pemupukan yang sama, apabila menggunakan
pupuk NPK maka perbandingannya 15:15:15 dengan ukuran diantara 75-125 kg untuk
setiap ha, dan bila ditabur dalam musim hujan dan dengan komposisi 250-350 kg
apabila dilakukan saat awal musim penghujan.
4) Pengairan dan
Penyiraman
Selama dua minggu pertama
setelah bibit yang berasal dari cangkokan/okulasi ditanam, penyiraman dilakukan
sebanyak dua kali sehari, pagi dan sore. Dan minggu-minggu berikutnya
penyiraman dapat dikurangi menjadi satu kali sehari. Apabila tanaman rambutan
telah tumbuh benar-benar kuat frekuensi penyiraman bisa dikurangi lagi yang
dapat dilakukan saat-saat diperlukan saja. Dan bila turunterlalu lebat
diusahakan agar sekeliling tanaman tidak tegenang air dengan cara membuat
lubang saluran untuk mengalirkan air.
5) Waktu Penyemprotan
Pestisida
Guna mencegah kemungkinan
tumbuhnya penyakit/hama karena kondisi cuaca/hewan-hewan perusak maka perlu
dilakukan penyemprotan pestisida umumnyadilakukan antara 15-20 hari sebelum
panen dan juga apabila kelembaban udara terlalu tinggi akan tumbuh cendawan,
apabila musim penghujan mulai tiba perlu disemprot fungisida beberapa kali
selama musim hujan pestisida dan insektisida
6) Pemeliharaan Lain
Untuk memacu munculnya
bunga rambutan diperlukan larutan KNO (Kalsium
Nitrat) yang akan mempercepat 10 hari lebih awal dari pada tidak diberi KNO dan juga mempunyai keunggulan memperbanyak "dompolan"
bunga (tandan) rambutan pada setiap stadium (tahap perkembangan) serta
mempercepat pertumbuhan buah rambutan.
7. HAMA
DAN PENYAKIT
7.1. Hama
pada Daun
Hama tanaman rambutan
berupa serangga seperti semut, kutu, kepik, kalong dan bajing serta hama lainya
seperti, keberadaan serangga ini dipengaruhi faktor lingkungan baik lingkungan
biotik maupun abiotik. misal: ulat penggerek buah (Dichocricic punetiferalis)
warna kecoklat-coklatan dengan ciri-ciri buah menjadi kering dan berwarna
hitam, Ulat penggerek batang (Indrabela sp) membuat kulit kayu dan mampu
membuat lobang sepanjang 30 cm, Ulat pemakan daun (Plonetadiducta/ulat keket)
memakan daun-daun terutama pada musim kemarau. Ulat Jengkal (Berta
chrysolineate) pemakan daun muda sehingga penggiran daun menjadi kering,
keriting berwarna cokelat kuning.
7.2.
Penyakit
Penyakit tanaman rambutan
disebabkan organisme semacam ganggang (Cjhephaleusos sp) yang diserang
umumnya daun tua dan muncul pada musim hujan dengan ciri-ciri adanya bercak-bercak
kecil dibagian atas daun disertai seratserat halus berwarna jingga yang
merupakan kumpulan sporanya. Ganggang Chaphaleuros kesimbiose dengan lumut
kerek (lichen) dan dapat dijumpai pada daun dan batang rambutan, yang nampak
seperti panu sehingga ranting yang diserang dapat mati; Penyakit akar putih
disebabkan oleh cendawan (jamur) Rigidoporus Lignosus dengan tanda rizom
berwarna putih yang menempel pada akar dan apabila akar yang kena dikupas akan
nampak warna kecoklatan.
7.3.
Gulma
Segala macam tumbuhan
pengganggu tanaman rambutan yang berbentuk rerumputan yang berada disekitar
tanaman rambutan yang akan mengganggu pertumbuhan perkembangan bibit rambutan
oleh sebab itu perlu dilakukan penyiangan secara rutin.
8. PANEN
8.1. Ciri
dan Umur Panen
Buah rambutan yang telah
matang dengan ciri-ciri melihat warna yang disesuikan dengan jenis rambutan
yang ada juga dengan mencium baunya serta yang terakhir dengan merasakan
rambutan yang sudah masak dibandingkan dengan rambutan yang belum masak, dapat
dipastikan bahwa pemanenan dilakukan sekitar bulan Nopember sampai Februari,
juga dapat dipengaruhi musim kemarau atau musim penghujan.
8.2. Cara
Panen
Cara pemanenan yang
terbaik adalah dipetik beserta tungkalnya yang sudah matang (hanya yang sudah
masak) sekaligus melakukan pemangkasan pohon agar tidak menjadi rusak.
Pemangkasan dilakukan sekaligus panen agar dapat bertunas kembali cepat berbuah
apabila pemetikan tidak terjangkau dapat dilakukan dengan menggunakan galah
untuk mengkait tangkai buah rambutan secara benar.
8.3.
Periode Panen
Periode pemanenan buah
rambutan dilakukan pada sekitar bulan Nopember sampai dengan Februari (masa
musim penghujan). Dengan dicari buah yang masak dan yang belum masak supaya
ditinggal dulu dan kemudian dipanen kembali
8.4. Prakiraan
Produksi
Apabila penanganan dan
pemeliharaan semenjak pembibitan hingga panen dilakukan secara baik dan benar
serta memenuhi aturan yang ada maka dapat diperkirakan mendapatkan hasil yang
maksimal. Setiap pohonnya dapat mencapai hasil minimal 0,10 kuintal, dan
maksimal dapan mencapai 1,75 kuintal setiap pohonnya.

0 Comments